OFFICER MD

Introducing Text

The Crisis In Cultural Social Life

on 22 March 2009



The Crisis In Culture Social Live


Here we go..
The Crisis of Modern Social Life , kata-kata ini saya baca dari Judul Buku Ian Parker (Psycholog) saat saya tanpa sengaja melewati lorong buku-buku Psikologi di Gramedia dan teringat akan janji saya kepada Bunda ATI (teman dari Friensdster) untuk menulis ttg krisis kehidupan social yang dialami oleh beberapa Persit di tubuh organisasi kita…
Namun dalam tulisan kali ini krisis yang terjadi adalah krisis sosial secara cultural. (The Crisis in Cultural Social Life), bukan krisis kehidupan modern..

Beberapa gejalanya adalah :
selfish, unrespectable on their surroundings and environs, narcissism, they don’t take a responsibility about what happened in their neighborhood, Laugh Out Loud, be angry and disagreeable in public, weeessss,, bahasanya maksa gitu ..!!!
its fine lah, itung itung melancarkan bahasanya Mas Brad Pitt (Fav Actor of mine)

Akhir akhir ini, banyak diantara anggota Persit muda yang mengalami krisis sosial secara kultural, bahkan terkadang melampaui wewenang senior, utamanya jika sang suami memiliki Jabatan “DAN” ,
Pemegang kepercayaan penuh sang Pimpinan,
atau yang orang tuanya berpangkat Bintang , power syndrome (not all, ada juga kok anak Jendral yang benar-benar baik, pintar dan ber tatakrama baik).

namun ada diantara Junior yang merasa memiliki kelebihan, ntah itu perasaan lebih pintar karena jenjang pendidikan lebih tinggi (S-2), merasa lebih muda dan enerjik, merasa lebih mampu memimpin organisasi dengan mengabaikan personal feeling yang ada di dalam komunitas tersebut.

Padahal latar belakang pendidikan dan ekonomi hanyalah sebagai pendukung dalam organisasi kita yang salah satu dasarnya adalah "kekeluargaan". (Not Your CV= Curriculum Vitae)

Mereka merasa punya kelebihan, padahal belum teruji kelebihan itu, hanya sekadar memiliki selembar sertifikasi dari Universitas Terkemuka…
Mereka cenderung mengabaikan asas-asas yang telah diperjuangkan oleh pendiri Persit tercinta ini.. Apa mereka belum mampu memahami arti luhur Asah Asuh Asuh… Ketidakpekaan itulah yang terjadi pada diri mereka.

So.. here the question :
Apakah azas Teach, Love and Care (Asah Asih Asuh) hanya sebagai slogan belaka tanpa makna / arti yang mampu kita implementasikan dalam keseharian berorganisasi dan bersosialisasi…????

Siapa yang bertanggung jawab dengan semakin mengendurnya nilai itu ????

Barometer apa yang digunakan untuk mengukur kelestarian azas azas yang selalu di gaungkan disetiap acara pertemuan anggota, disetiap kunjungan kerja unsur pimpinan dan tertera dengan jelas dalam AD ART..????

Pada TOP level organisasi, nilai-nilai ini masih sangat terjaga, karena ada beliau-beliau yang masih menjaga etika, adat istiadat budaya timur, dengan cara mengunjungi mantan unsur pimpinan yg sudah purna, melaksanakan kegiatan saresehan lintas generasi.
Namun tidak demikian halnya pada level bawah yang hanya respek / loyal kepada istri & keluarga atasan langsung / pimpinan dari suaminya karena mungkin mereka pikir sikap tersebut akan mendatangkan keuntungan bagi karier suaminya.
Padahal sikap yang dipelihara itu sama sekali kurang tepat. atasan akan selalu berganti. Atasan juga tidak menjamin cemerlangnya karier suami…

Dengan kata lain bahwa perilaku tersebut sudah mereka pikirkan, sengaja dan harus mereka kerjakan karena adanya suatu kepentingan tertentu.
Perilaku dan cara berfikir seperti itu tentu tidak sesuai dengan budaya yang diwariskan nenek moyang kita yang penuh kepedulian, keharmonisan, ringan tangan mengandung sifat gotong royong, mulia hati, mengutamakan kepentingan umum untuk orang banyak atau kebersamaan, dan kemasyarakatan.

Itulah makna dari nilai-nilai hakiki budaya timur yang mulai terasa kering tak terjaga dan cenderung ditinggalkan.
Sebagai generasi muda, apakah kita akan berdiam diri menyaksikan etika budaya timur yang tidak terasa mulai ditingalkan & akan berubah menjadi budaya barat.
Tidak berperilaku santun kepada seseorang yang tidak kita kenal dengan alasan karena dia bukanlah atasan langsung .

Salah satu kisah:

Dalam sebuah acara ceremony, yang dihadiri oleh berbagai generasi dalam Organisasi Persit (Persit Senior, Perip dan Warakawuri), untuk kelancaran acara tersebut tentu ada kordinator, dan kordinator acara tersebut adalah seorang istri Danyon (Yon Pemukul Kodam), sebut saja Ny.Kutilang (sesuai perawkannya Kurus Tinggi Langsing)

Ny.Kutilang mondar mandir dalam ruangan tersebut, karena memang dia sebagai orang yg dipercaya untuk mengatur kelancaran acara, dengan menyandang gelar "sang kordinator", si doi perintah sana, perintah sini, suaranya bisa terdengar ke separuh ruangan... Dia bahkan sedikit mengabaikan siapa siapa saja yang berada diruangan Aula tersebut, sehingga terabaikan etika kesopanan, tiada tegur sapa terhadap senior, sesepuh yg ada di ruangan tsb, semakin diperhatikan,,, eeeee... malah justru semakin menunjukan ke”AKU”annya, semakin cuek, semakin mengibaskan rambut curling-nya…..(abis dari salon ne...??)

Pada saat acara ramah tamah dengan makan siang, beberapa undangan (termasuk Perip & warakawuri) memilih untuk tetap berdiri dekat Buffet Dessert & Buffet Buah-buahan, melintas lah si Ny.Kutilang dengan gaya berjalan ala di cat walk, tanpa basa basi menyapa atau manggut kepada para sesepuh yang berdiri , hanya melirik dengan ujung mata tanpa memalingkan kepalanya....uuuh sadis ne...!!!

"de'e sopo to jeng, wara wiri ae …???" (dia siapa sih, balik balik mulu) tanya salah seorang Warakawuri kepada ibu-ibu muda yang membagikan piring di meja perasmanan...

"ooo Niku bu Danyon Raider 000, enten nopo to bu ??" (o itu ibu Danyon raider 000, ada apa emang bu?) si Ibu muda balik betanya.

"ora popo.... gayane iku lo, koyo sing kuoso ae, ora nduwe totokromo.." (ga papa... gayanya itu lho, kaya paling kuasa aja, gak punya tatakrama) .... uuuuh tajem bo...!!!

Dari pembicaraan singkat diatas, menunjukan bahwa ada kekesalah dari sesepuh kita atas sikap yang dimiliki Ny. Kutilang (dan mungkin masih banyak lagi)

Kita-kita sebagai generasi muda penerus estafet organisasi, tentu sungkan juga dinilai "Ara Nduwe Totokromo",, terus harus diapain dong oknum Persit yang begitu...??? apa seharusnya diberikan wejangan khusus dan tegas bahwa dia tidak pantas bersikap demikian... gak cukup hanya itu kaleee..!!!

Kalo sudah parah begini, apa perlu Persit ini memiliki pendidikan khusus ala Kawah Chandra Dimuka,, supaya menghasilkan Persit-Persit yang patuh dan taat terhadap sumpah Persit dan Perintah harian Katua Umum… hehehehe.. emang ada perintah Harian Kartika 1..??? kagak ade mpo...!!!!
Seru kali ya kalo ada "Kawah Chandra Dimuka ala Persit…" aku mau deh ikutan....!!!!

Siapa yang punya Ibu Danyon or Pimpinan yang seperti itu…???
Jangan ragu sampaikan kepada kita-kita,, supaya kita bisa ingatkan bersama-sama, agar menjaga nilai-nilai moral etika budaya bangsa kita… Atau kita masukin ke "KAWAH" tadi rame-rame… hehehehe….mana ada yang berani cuy...!!!

Nah ini ada 5 Dasar Tips dari Teh Offi: (kaya Pancasila aja 5 Dasar) :

1. Dalam sebuah acara dan tidak salah bersikap, hormati seluruh orang yang tidak kita kenali, jangan sampai kita salah alamat, alias kualat, nyuruh senior manggilin supir anda,,, weeeesss kasus tuh, apalagi banyak pimpinan di TNI yang istrinya jauh lebih muda dibandingkan usia kita. Jangan mentang mentang dia terlihat lebih muda langsung nganggap dia pasti Junior dan dipanggil "Jeng" ….


2. Kenal atau tidak, hormati sesepuh disekitar kita dengan memberikan senyum, salam atau sapa (sun tangan cipika-cipiki ritual budaya timur), dan sedikit chit chat , jangan melenggang aja depan beliau. minimal manggut deh...

3. Dalam sebuah acara gabungan kepengurusan or acara gabungan dengan organisasi lain (Jala , Pia or Dharma Wanita) Jangan duduk di barisan paling depan sebelum TOP Leader hadir, duduklah di barisan ke 4 or 5kecuali sudah ada name tag di kursi. Malu-malu-in kalo udah duduk depan terus disuruh mundur,,, kecian deh….

4. Tersenyumlah pada semua orang, tapi hatimu jangan,,, (Ike Nurjanah kaleee…),, karena senyuman juga adalah sedekah… Senyum yang ramah, karena senyuman dapat memberikan kesan yang baik saat kita bertemu dengan orang-orang baru, kalo perlu tuker-tukeran no HP, foto bareng trus upload di FB…adict FB banget sih...

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia…. LOH KOK…??

:-)) sorry udah stuck nih cari-cari ide tips,,, kalo ada yang mau nambahin boleh banget…
Thanks ya udah mau mampir di Blog ini,,,
sekali kali ada yang kasih comment tajem, pedes, menusuk, berdarah darah , jungkir balik sekalian kek, biar seru,,, !!!! jangan hanya setuju, udah jenuh nih dengan pujian,,haha,,, siapa elo…. Kenalin gw A B C D E F G H = Aduh Boo Capee DEeeeh Flease Geto Lhoo… bahasana maksa deui yeuh…

Ok Girls,,That's all from me for now...!!! don't forget ti drop me some words in comment box. It’ll be nice if you leave some words to let me know who you are...

Wise Word for this Post :

"Change will not come if we wait for some other person or some other time. We are the ones we've been waiting for. We are the change that we seek." —Barack Obama

Yup, bener banget ini Pidatonya Barack Husein Obama pada saat Inagurasi November tahun lalu,, dan saya juga berusaha untuk balik bertanya dalam diri : Perubahan apa yang kira-kira akan saya lakukan dalam kehidupan pribadi saya,??? dan saya harus selalu menginspirasi diri untuk membuat hidup ini berubah menjadi lebih positive,, bagaimanapun juga kita adalah perubahan yang kita cari selama ini...

Untuk teman-teman yang selama ini merasa memiliki kekurangan dalam bersosialisasi or berbasa-basi (termasuk saya juga) gak ada ruginya mulai merubah ke"selfish"an dengan mulai menyapa teman-teman lama yang sudah tidak pernah disapa, "berubah menuju hal yang lebih positive..."